PATI, Garudasiber.net – Dampak puncak musim kemarau panjang yang melanda wilayah Jawa Tengah mulai terlihat nyata di Kabupaten Pati. Salah satu ikon wisata sekaligus sumber daya air vital di daerah ini, Waduk Seloromo atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Waduk Gembong, mengalami penyusutan volume air yang drastis. Per Jumat (11/9/2026), tingkat ketinggian air di waduk bersejarah peninggalan era kolonial Belanda ini tercatat hanya tersisa sekitar 30 persen dari kapasitas maksimalnya.
Berdasarkan data terkini, dari kapasitas tampung maksimal sebesar 9,5 juta meter kubik, sisa air di Waduk Gembong kini diperkirakan hanya tinggal sekitar 2,4 juta meter kubik. Kondisi ini dilaporkan menjadi salah satu yang terberat dalam beberapa tahun terakhir. Dasar waduk yang biasanya tertutup air kini mulai terlihat kering, dengan genangan air hanya tersisa di beberapa titik bagian dalam saja. Area pinggiran waduk yang mengering telah berubah menjadi hamparan padang rumput, menciptakan pemandangan unik layaknya oase atau telaga kecil di tengah sabana.
Fenomena alam ini justru memunculkan daya tarik baru bagi wisatawan. Biasanya, Waduk Gembong yang terletak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Pati menawarkan pemandangan hamparan air luas dengan latar belakang Pegunungan Muria yang megah. Namun, saat ini pengunjung disuguhkan suasana berbeda berupa hamparan rumput kering yang eksotis di dasar waduk.
Area sabana yang terbentuk akibat surutnya air tersebut telah berubah fungsi menjadi spot foto baru yang instagramable. Pemandangan hamparan rumput dengan sisa genangan air yang mirip telaga kecil, serta latar belakang indahnya Gunung Muria, menciptakan panorama yang asri, sejuk, dan nyaman untuk memanjakan mata. Destinasi wisata alternatif ini mulai ramai dikunjungi warga lokal, khususnya pada sore hari mulai pukul 16.00 WIB, untuk menikmati angin sepoi-sepoi khas dataran tinggi sambil berswafoto.
Meskipun menawarkan keindahan visual baru, situasi ini juga menegaskan urgensi penanganan dampak perubahan iklim dan manajemen sumber daya air di wilayah Pati. Sebagai sumber vital bagi sektor pertanian, penyusutan air di Waduk Gembong menimbulkan kekhawatiran serius bagi para petani lokal.
Diperkirakan pasokan air untuk irigasi dari waduk ini hanya mampu bertahan selama dua pekan ke depan sebelum benar-benar habis jika tidak ada hujan turun. Hal ini berpotensi berdampak langsung pada lahan pertanian di lima kecamatan yang bergantung pada aliran air dari waduk tersebut, yaitu Kecamatan Gembong, Tlogowungu, Pati, Wedarijaksa, dan Margorejo. Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan dapat bersiap menghadapi potensi gangguan distribusi air dalam waktu dekat.
Bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi lokasi ini, disarankan untuk tetap berhati-hati saat menjelajahi area dasar waduk yang kering dan senantiasa menghormati lingkungan sekitar. Waduk Gembong tetap menjadi destinasi yang layak dikunjungi, namun dengan perspektif baru tentang ketahanan alam dan pentingnya keberlanjutan sumber daya air di tengah tantangan cuaca ekstrem.












