SURABAYA, Garudasiber.net –Malam Jumat, langit tampak kelabu. Kabut tipis menggantung rendah, seolah menyembunyikan duka yang belum reda. Di tengah sunyinya malam, langkah kecil seorang anak perempuan menapaki jalan setapak menuju kompleks pemakaman. Usianya baru belasan, namun gurat kesedihan di wajahnya seperti milik orang dewasa yang terlalu dini memahami kehilangan ke dua orang tuanya.
Di tangannya, tergenggam erat maesan juga membawa bunga dan lembaran surah Yasin yang sudah lusuh oleh waktu. Ia tak membawa siapa pun ziarah ini adalah pertemuan pribadi, antara anak yang ditinggal kedua orang tua yang telah pergi. Ucap Pejiarah
Kedua orang tuanya meninggal dalam Sakit. Sejak itu, setiap malam Jumat, ia tak pernah absen. Bukan karena tradisi semata, tapi karena keyakinan yang tumbuh dari cinta: bahwa doa seorang anak adalah hadiah abadi bagi kedua orang tua yang telah tiada.
Ia duduk di antara dua pusara yang berdampingan. Hening. Hanya suara desir angin dan sesekali dari kejauhan. Tapi di dalam dirinya, ada percakapan yang lebih nyata dari apapun. Ia membacakan doa – doa, melafalkan ayat-ayat suci dengan suara lirih tapi tegas, seperti menembus langit.
“Sore itu, ia tidak hanya datang untuk mengirim doa. Ia datang untuk menepati janji: bahwa kasih sayang tidak berakhir di liang lahat. Bahwa cinta seorang anak tetap hidup, bahkan ketika dunia sudah mengira segalanya telah usai.












