Pray for Sumatra: Saat Mahasiswa UNIPRA Surabaya Turun ke Jalan, Doa dan Kepedulian Mengalir di Tengah Terik Surabaya

Surabaya, Garudasiber.net – Rabu pagi (10/12/2025) di Surabaya terasa berbeda. Langit yang biasanya sibuk menaungi hiruk-pikuk kota, hari itu tampak seperti menahan duka. Tepat pukul 10.00 WIB, di bawah panas yang mengeringkan keringat, sekelompok mahasiswa Universitas W.R. Supratman Surabaya berdiri di simpang empat traffic light Jalan Arief Rahman Hakim, bukan untuk berdemonstrasi, bukan pula untuk berpamer akademik. Mereka berdiri untuk Sumatra, untuk suara-suara yang tertutup debu bencana, untuk harapan yang sedang berjuang agar tidak padam.

 

Dengan tangan tegas mereka membentangkan spanduk bertuliskan “ORMAWA UNIPRA PEDULI BENCANA PRAY FOR SUMATRA.” Kalimat itu tak hanya terpampang di atas kain; ia hidup, bergetar, dan menyuarakan kepedihan yang sedang melanda saudara-saudara di tanah Sumatra. Setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah menjadi saksi bahwa kepedulian tak pernah kehilangan tempatnya, bahkan di tengah kesibukan kota sebesar Surabaya.

 

Para mahasiswa, dengan mata yang memantulkan kelelahan sekaligus keteguhan, mengangkat kotak donasi seraya berharap ada tangan-tangan lain yang bersedia menyalurkan bantuan. Setiap lembar uang yang masuk, sekecil apa pun, menjadi setetes cahaya di tengah gelapnya bencana.

 

Siti Khodijah, Presiden BEM Universitas W.R. Supratman Surabaya, berdiri di antara mereka. Suaranya tenang, tetapi menyimpan getaran emosional yang tak bisa disembunyikan.

 

“Aksi digelar satu hari saja, tapi untuk open donasi kita buka sampai tanggal 17 besok,” ucapnya singkat, namun cukup untuk menggambarkan betapa seriusnya langkah ini.

Ahmad Sobim selaku Koordinator Lapangan siap menampung donasi sampai tanggal 17 Desember 2025, Whatsapp 0857-5565-8140.

 

Satu hari saja mereka turun ke jalan. Namun empati yang mereka bawa jauh lebih panjang daripada waktu. Dari Surabaya, mereka mencoba merangkul Sumatra bukan dengan tangan, tapi dengan hati. Upaya kecil ini mungkin tak akan menghapus setiap puing atau air mata, tetapi ia mampu menjadi pengingat bahwa di setiap bencana, selalu ada orang-orang yang memilih untuk menjadi pelita.

 

Ketika dunia terasa berat, mahasiswa-mahasiswa ini menunjukkan bahwa masih ada yang mau memikul beban bersama. Dan hari itu, di bawah terik yang menyengat, Surabaya menyaksikan bahwa kepedulian adalah bahasa yang paling keras, paling jujur, dan paling manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *