Surabaya, Garudasiber.net – Hari itu, di Bukit Zaitun, langit tidak hanya menjadi latar, melainkan saksi bisu dari peristiwa agung yang mengubah wajah iman Kristiani selamanya. Yesus dari Nazaret, Sang Guru, Mesias yang bangkit dari kematian, berdiri di hadapan para murid-Nya. Dengan kata-kata terakhir yang sarat pengharapan dan perintah untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi, Ia pun terangkat ke surga. Perlahan, tubuh-Nya diselubungi awan, dan menghilang dari pandangan manusia—sebuah momen transenden yang menandai akhir dari kehadiran fisiknya di dunia, namun bukan akhir dari karya keselamatanya.
Kamis, 29 Mei 2025. Dua ribu tahun berlalu, namun gema dari peristiwa itu masih menggetarkan batin jutaan umat Kristiani di seluruh dunia. Di Indonesia, hari ini ditetapkan sebagai hari libur nasional, dan pada tahun ini diperpanjang dengan cuti bersama hingga Jumat, 30 Mei 2025, memberi ruang refleksi yang lebih luas bagi mereka yang ingin merenungkan makna spiritualnya. Namun, di balik suasana libur panjang dan perjalanan wisata, terselip pesan yang jauh lebih dalam pesan tentang pengharapan, kemenangan atas kematian, dan mandat untuk hidup dalam terang.
Kenaikan Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa spektakuler yang menutup lembaran kehidupan-Nya di bumi. Ia adalah deklarasi ilahi: bahwa Kristus yang bangkit kini dimuliakan, duduk di sebelah kanan Allah, menjadi pengantara bagi manusia dan Allah. Ia tidak pergi untuk meninggalkan, melainkan untuk mempersiapkan tempat. “Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu,” katanya dalam Injil Yohanes, kalimat yang menggema seperti pelita dalam dunia yang terus-menerus dirundung bayang-bayang kegelapan.
Namun, dalam dunia yang semakin sekuler, Hari Kenaikan kerap tereduksi menjadi tanggal merah belaka. Gereja-gereja mungkin penuh, namun jiwa manusia belum tentu terisi. Kita hidup dalam zaman ketika spiritualitas digantikan rutinitas, ketika iman dikompromikan oleh kenyamanan, dan ketika pesan Yesus disamarkan oleh algoritma media sosial.
Padahal, makna Kenaikan Kristus adalah panggilan untuk naik: naik dari keputusasaan menuju pengharapan, dari egoisme menuju kasih yang tak bersyarat, dari dunia yang fana menuju realitas surgawi yang kekal. Ini adalah momentum untuk bertanya kembali: Apakah kita masih menjadi saksi-Nya, seperti yang diperintahkan? Atau kita telah larut dalam siklus hidup yang hampa, di mana iman hanya menjadi simbol, bukan sumber kekuatan?
Tahun ini, Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden telah mengganti nomenklatur resmi dari “Kenaikan Isa Almasih” menjadi “Kenaikan Yesus Kristus” sebuah langkah simbolik yang menegaskan identitas keimanan secara lebih eksplisit. Ini bukan sekadar perubahan istilah, melainkan pengakuan terhadap sejarah iman yang tak dapat ditawar. Nama itu membawa makna, dan makna membawa kuasa.
Di berbagai penjuru negeri, gereja-gereja mengadakan misa dan ibadah peringatan, baik secara langsung maupun daring. Di tengah keterbatasan dunia, ruang digital pun dipakai untuk menyampaikan pesan surgawi. Dari kota-kota besar hingga pelosok desa, umat bersatu dalam pujian dan doa, menyatakan bahwa Kristus yang naik ke surga adalah Tuhan atas segalanya—atas hidup dan mati, atas masa lalu dan masa depan, atas dunia yang kelam dan terang yang dijanjikan.
Hari Kenaikan Yesus Kristus adalah hari iman. Ia mengingatkan kita bahwa dunia bukanlah akhir cerita. Bahwa penderitaan, ketidakadilan, dan kematian bukanlah kata penutup. Ada sesuatu yang lebih tinggi, lebih suci, dan lebih kekal menanti. Dan selama kita hidup di dunia ini, kita dipanggil bukan hanya untuk menatap langit, tetapi untuk bekerja di bumi, menjadi saksi kasih dan kebenaranya.
Selamat memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus. Langit mungkin terlihat jauh, namun harapan nya begitu dekat. Ia telah naik, tetapi janjinya tidak pernah pergi.












