SURABAYA, Garudasiber.net – Kota Surabaya kembali mencatatkan sejarah kelam. Gedung Negara Grahadi, ikon politik Jawa Timur sekaligus simbol kekuasaan pemerintah daerah, luluh lantak diamuk massa. Tidak hanya dibakar, bagian dalam gedung juga dijarah, termasuk perangkat elektronik kantor seperti printer yang raib entah ke mana, Minggu (31/8)
API YANG MEMBARA DARI AMARAH SOSIAL
Kronologi awal menyebutkan, massa aksi yang sejak siang memadati kawasan Tugu Pahlawan hingga Jalan Gubernur Suryo, semula bergerak damai. Namun, ketegangan meningkat ketika aparat mulai memperketat barikade di sekitar Grahadi. Bentrokan pun pecah batu dan botol melayang ke arah aparat, gas air mata dan tembakan peringatan dibalas dengan lemparan molotov.
Sekitar pukul 21.30 WIB, kobaran api pertama terlihat dari jendela bagian sayap kiri gedung. Api cepat membesar, melahap ruang demi ruang. Para pemadam kebakaran yang tiba di lokasi mengalami kesulitan menembus kerumunan massa. Dalam situasi kacau itu, kelompok lain justru masuk ke dalam gedung, menjarah barang-barang yang bisa diangkut.
PENJARAHAN DI TENGAH KOBARAN API
Seorang saksi mata, petugas kebersihan Grahadi, mengatakan ia melihat langsung bagaimana sejumlah orang membawa keluar barang-barang kantor. “Saya lihat mereka bawa printer besar, kayaknya dari ruang administrasi. Itu orang bukan peserta demo, mukanya asing, lebih kayak kelompok yang sengaja masuk pas situasi kacau,” ujarnya.
Keterangan itu memunculkan dugaan bahwa kericuhan bukan hanya dipicu emosi massa, tetapi juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan penjarahan terencana.
GRAHADI, SIMBOL YANG DISERANGKini, bangunan itu menjadi korban dari ledakan sosial: ketidak puasan, kemarahan, dan kekecewaan yang menumpuk. Sejumlah akademisi menilai, pembakaran Grahadi adalah bentuk simbolik rakyat menyerang “jantung kekuasaan” yang dianggap tuli terhadap suara mereka.
DUGAAN ADA “PENUMPANG GELAP” Sumber internal kepolisian yang enggan disebut namanya mengaku, ada indikasi kuat keterlibatan aktor intelektual di balik kerusuhan. Mereka diduga sengaja mendorong massa agar bentrok dengan aparat, lalu memicu perusakan dan pembakaran.
“Polanya mirip kerusuhan terencana. Ada massa murni yang marah, ada juga kelompok lain yang menyusup dengan agenda berbeda,” ungkapnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa demonstrasi bukan lagi sekadar aksi protes, tetapi sudah berkembang menjadi arena perebutan dan kepentingan politik.












