Oleh: Yudianto, C.BJ., C.ILJ.
Usia 40-an sering kali tidak lagi bicara tentang cinta yang menggebu atau mimpi yang melambung tinggi. Di usia ini, banyak keputusan diambil bukan karena bahagia, melainkan karena terlalu banyak yang harus dijaga agar tidak runtuh.
Saya bertahan, bukan karena semuanya baik-baik saja. Anak-anak sudah terlanjur besar. Bukan cinta yang membuat saya tetap di sini, melainkan ketakutan melihat mereka tumbuh dengan luka yang sama seperti yang pernah saya rasakan. Luka yang diwariskan, sering kali lebih menyakitkan daripada luka yang kita tanggung sendiri.
Memulai dari nol di usia ini juga bukan perkara keberanian. Tenaga dan mental sudah terkuras oleh tanggung jawab, pekerjaan, dan beban hidup yang tidak pernah benar-benar berhenti. Apa yang dulu terasa mungkin, kini terasa berat untuk sekadar dibayangkan.
Ada pula ketakutan akan kesendirian di usia tua. Bukan karena ingin pasangan yang sempurna, tetapi karena membayangkan menua tanpa siapa pun di sisi terasa jauh lebih menakutkan. Maka status sering kali dipertahankan, meski perasaan di dalam rumah perlahan runtuh. Terlihat utuh di mata orang, hancur dalam diam.
Pernikahan, bagi sebagian orang, adalah amanah yang sulit dilepaskan meski kebahagiaan terasa menjauh. Masih ada tanggung jawab yang belum selesai. Masih ada janji yang, entah mengapa, terasa terlalu berat untuk diakhiri begitu saja.
Saya pun sampai pada fase di mana bertahan terasa menyiksa, namun berpisah juga menghadirkan ketakutan yang tidak kalah besar. Takut penyesalan di masa depan justru lebih menyakitkan daripada luka hari ini. Di tengah semua itu, harapan kecil tetap disimpan: semoga suatu hari pasangan berubah. Meski harapan itu semakin tipis, ia tetap hidup dalam diam.
Namun pernikahan tidak bisa dijalani oleh satu pihak saja. Ikhtiar sudah diupayakan, introspeksi dilakukan, bahkan komitmen untuk berubah telah diikrarkan. Ketika usaha itu justru dibalas dengan tuduhan dan komunikasi ditutup rapat, seseorang akan sampai pada titik lelah yang paling sunyi.
Pada titik itu, barangkali yang paling bijak adalah berhenti sejenak. Memberi jarak, memberi waktu. Menunggu, apakah hati yang tertutup masih mungkin terbuka kembali. Jika iya, mungkin itulah jalan untuk pulang. Jika tidak, mungkin keikhlasan adalah satu-satunya pintu yang tersisa.
Saya percaya, jika masih berjodoh, selalu ada jalan untuk kembali. Yang telah bercerai pun bisa rujuk kembali jika Allah SWT berkehendak. Dan jika ternyata tidak lagi berjodoh, maka ikhlas dan pasrah adalah bentuk keberanian yang lain.
Tugas manusia hanyalah menjalani. Skenario terbaik selalu milik Allah. Di balik badai yang panjang, saya percaya, selalu ada pelangi—meski tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.












